7
AHLI SOSIOLOGI
1. Prof.
Dr. Selo Soemardjan
“Sosiologi adalah ilmu
kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial
termasuk perubahan sosial.”
Kanjeng
Pangeran Haryo Prof. Dr. Selo Soemardjan adalah seorang tokoh pendidikan dan
pemerintahan Indonesia. Penerima Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah ini
adalah pendiri sekaligus dekan pertama Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan
(kini FISIP-UI) dan sampai akhir hayatnya dengan setia menjadi dosen sosiologi
di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).
Ia
merupakan sosok yang sangat disiplin dan selalu memberi teladan yang
nyata. Berkat sosoknya, masyarakat mendapatkan bekal banyak ilmu pengetahuan.
Berdasarkan batasan usia, seharusnya ia sudah purnatugas di Universitas
Indonesia (UI), namun ia tetap mengajar dengan semangat tinggi karena masih
dibutuhkan. Ia memang sosok berintegritas, punya komitmen sosial yang tinggi
dan sulit untuk diam.
Ia
orang yang tidak suka memerintah, tetapi memberi teladan. Hidupnya lurus, bersih,
dan sederhana. Ia tokoh yang memerintah dengan teladan, sebagaimana diungkapkan
pengusaha sukses Soedarpo Sastrosatomo. Menurut Soedarpo, integritas itu pula
yang membuat mendiang Sultan Hamengku Buwono IX berpesan kepada putranya,
Sultan Hamengku Buwono X agar selalu mendenarkan dan meminta nasihat kepada
Selo kalau menyangkut persoalan sosial kemasyarakatan. Ia orang yang tidak
pernah berhenti berpikir dan bertindak.Ia seorang dari sedikit orang yang
pantas menyerukan hentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Pantas
karena ia bukan tipe maling teriak maling. Ia orang-orang bersih yang dengan
perangkat ilmu dan keteladannya bisa menunjukkan bawa praktik KKN itu merusak
tatanan sosial. Ia pantas menjadi teladan kaum birokrat karena etos kerjanya
yang tingggidalam mengabdi kepada masyarakat.
Selama
hidupnya, Selo pernah berkarier sebagia pegawai Kesultanan/Pemerintah Daerah
Istimewa Yogyakarta, Kepala Sekretariat Staf Keamanan Kabinet Perdana Menteri,
Kepala Staf Sipi Gubernur Militer Jakarta Raya, Kepala Biro III Sekretariat
Negara merangkap Sekretaris Umum Badan Pemeriksa Keuangan, Sekrtaris Wakil
Presiden RI Sultan Hamengku Buwono IX (1973 – 1978), Asisten Wakil Presiden
Urusan Kesejateraan Rakyat (1978 – 1983) dan Staf Ahli Presiden HM Soeharto.
Ia
dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia setelah tahun 1959 -- seusai meraih
gelar doktornya di Cornell University, AS -- mengajar sosiologi di Universitas
Indonesia (UI). Dialah pendiri sekaligus dekan pertama (10 tahun) Fakultas Ilmu
Pengetahuan Kemasyarakatan (sekarang FISIP) UI. Kemudian tanggal 17 Agustus
1994, ia menerima Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah dan pada tanggal 30
Agustus menerima gelar ilmuwan utama sosiologi.
Pendiri
FISIP UI ini, memperoleh gelar profesor dari Fakultas Ekonomi UI dan sampai
akhir hayatnya justeru mengajar di Fakultas Hukum UI. Ia dibesarkan di
lingkungan abdi dalem Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Kakeknya, Kanjeng
Raden Tumenggung Padmonegoro, adalah pejabat tinggi di kantor Kasultanan
Yogyakarta. Berkat jasa sang kakek, Soemardjan- begitu nama aslinya-mendapat
pendidikan Belanda.
Nama
Selo dia peroleh setelah menjadi camat di Kabupaten Kulonprogo. Ini memang cara
khusus Sultan Yogyakarta membedakan nama pejabat sesuai daerahnya
masing-masing. Saat menjabat camat inilah ia merasa mengawali kariernya sebagai
sosiolog. "Saya adalah camat yang mengalami penjajahan Belanda, masuknya
Jepang, dilanjutkan dengan zaman revolusi. Masalahnya banyak sekali,"
tuturnya suatu ketika sebagaimana ditulis Kompas.
Pengalamannya
sebagai camat membuat Selo menjadi peneliti yang mampu menyodorkan alternatif
pemecahan berbagai persoalan sosial secara jitu. Ini pula yang membedakan Selo
dengan peneliti lain. Mendiang Baharuddin Lopa dalam salah satu tulisannya di
Kompas (1993) menulis, "Pak Selo menggali ilmu langsung dari kehidupan
nyata. Setelah diolah, dia menyampaikan kembali kepada masyarakat untuk
dimanfaatkan guna kesejahteraan bersama." Lopa menilai Selo sebagai dosen
yang mampu mendorong mahasiswanya berpikir realistis dan mengerti serta
menghayati apa yang diajarkannya. "Pendekatan realistis dan turun ke bawah
untuk mengetahui keadaan sosial yang sesungguhnya inilah yang dicontohkan juga
oleh para nabi dan kalifah," tulis Lopa.
Meski
lebih dikenal sebagai guru besar, Selo jauh dari kesan orang yang suka
"mengerutkan kening". Di lingkungan keluarga dan kampus, dia justru
dikenal sebagai orang yang suka melucu dan kaya imajinasi, terutama untuk
mengantar mahasiswanya pada istilah-istilah ilmu yang diajarkannya. "Kalau
menjelaskan ilmu ekonomi mudah dimengerti karena selalu disertai contoh-contoh
yang diambil dari kehidupan nyata masyarakat," kenang Baharuddin Lopa.
Dalam tulisan Lopa, Selo juga digambarkan sebagai orang yang bicaranya kocak,
tetapi mudah dimengerti karena memakai bahasa rakyat. Meski kata-katanya
mengandung kritikan, karena disertai humor, orang menjadi tidak tegang
mendengarnya.
Menurut
putra sulungnya, Hastjarjo, Selo suka main. "Setiap hari selalu memainkan
tubuhnya berolahraga senam. Karena terkesan lucu, cucu-cucu menganggap bapak
sedang bermain-main dengan tubuhnya," tambahnya.
Sebagai
ilmuwan, karya Selo yang sudah dipublikasikan adalah Social Changes in
Yogyakarta (1962) dan Gerakan 10 Mei 1963 di Sukabumi (1963). Penelitian
terakhir Selo berjudul Desentralisasi Pemerintahan. Terakhir ia menerima
Anugerah Hamengku Buwono (HB) IX dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada puncak
peringatan Dies Natalis Ke-52 UGM tanggal 19 Januari 2002 diwujudkan dalam
bentuk piagam, lencana, dan sejumlah uang
2. Auguste
Comte
“Sosiologi adalah Suatu
disiplin ilmu yang bersifat positif yaitu mempelajari gejala-gejala dalam
masyarakat yang didasarkan pada pemikiran yang bersifat rasional dan ilmiah.”
Auguste
Comte adalah seorang filsuf Perancis yang dikenal karena memperkenalkan bidang
ilmu sosiologi serta aliran positivisme. Melalui prinsip positivisme, Comte
membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian
metode ilmiah dalam ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran.
Auguste Comte disebut
sebagai Bapak Sosiologi karena dialah yang pertama kali memakai istilah
sosiologi dan mengkaji sosiologi secara sistematis, sehingga ilmu tersebut
melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sejak pertengahan abad ke-19
(1856).
Comte
lahir di Montpellier, sebuah kota kecil
di bagian barat daya dari negara Perancis pada 19 Februari 1798. Setelah
bersekolah disana, ia melanjutkan pendidikannya di École Polytechnique di
Paris. École Polytechnique saat itu terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis
republikanisme dan filosofi proses. Pada tahun 1816, politeknik tersebut
ditutup untuk re-organisasi. Comte pun meninggalkan École dan melanjutkan
pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier.
Tak
lama kemudian, ia melihat sebuah perbedaan yang mencolok antara agama Katolik
yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki yang berkuasa sehingga ia
terpaksa meninggalkan Paris. Kemudian pada bulan Agustus 1817 dia menjadi murid
sekaligus sekretaris dari Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang
kemudian membawa Comte masuk ke dalam lingkungan intelek. Pada tahun 1824,
Comte meninggalkan Saint-Simon karena lagi-lagi ia merasa ada ketidakcocokan
dalam hubungannya.
Saat
itu, Comte mengetahui apa yang ia harus lakukan selanjutnya: meneliti tentang
filosofi positivisme. Rencananya ini kemudian dipublikasikan dengan nama Plan
de travaux scientifiques nécessaires pour réorganiser la société (1822)
(Indonesia: Rencana studi ilmiah untuk pengaturan kembali masyarakat). Tetapi
ia gagal mendapatkan posisi akademis sehingga menghambat penelitiannya.
Kehidupan dan penelitiannya kemudian mulai bergantung pada sponsor dan bantuan
finansial dari beberapa temannya.
Ia
kemudian menikahi seorang wanita bernama Caroline Massin. Comte dikenal arogan,
kejam dan mudah marah sehingga pada tahun 1826 dia dibawa ke sebuah rumah sakit
jiwa, tetapi ia kabur sebelum sembuh. Kemudian setelah kondisinya distabilkan
oleh Massin, ia mengerjakan kembali apa yang dulu direncanakannya. Namun
sayangnya, ia bercerai dengan Massin pada tahun 1842 karena alasan yang belum
diketahui. Saat-saat di antara pengerjaan kembali rencananya sampai pada
perceraiannya, ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Le Cours de Philosophie
Positivistic.
Pada tahun 1844, Comte
menjalin kasih dengan Clotilde de Vaux, dalam hubungan yang tetap platonis.
Setelah Clotilde wafat, kisah cinta ini menjadi quasi-religius. Tak lama
setelahnya, Comte, yang merasa dirinya adalah seorang penemu sekaligus seorang
nabi dari "agama kemanusiaan" (religion of humanity), menerbitkan
bukunya yang berjudul Système de politique positive (1851 - 1854). Dia wafat di
Paris pada tanggal 5 September 1857 dan dimakamkan di Cimetière du Père
Lachaise.
3. Pitirim
A. Sorokin
“Sosiologi adalah ilmu
yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara anekamacam gejala
sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral),
sosiologiadalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara
gejala sosialdengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu
yang mempelajari ciri-ciriumum semua jenis gejala-gejala sosial lain.”
Pitirim
Alexandrovich Sorokin lahir di Rusia pada 21 Januari 1889. Beliau adalah
seorang akademis dan aktivis politik di Rusia, ia beremigrasi dari Rusia ke
Amerika Serikat pada tahun 1923. Ia mendirikan Departemen Sosiologi di
Universitas Harvard. Ia terkenal untuk sumbangannya kepada teori siklus sosial.
Pitirim
menempuh pendidikan di Universitas St Petersburg setelah itu ia mengajar pada
bidang sosiologi dan hukum. Sorokin dipenjarakan tiga kali oleh rezim tsar
Rusia Kekaisaran; selama Revolusi Rusia ia adalah seorang anggota dari
Alexander Kerensky ‘s Pemerintahan Sementara Rusia. Setelah Revolusi Oktober
dia terlibat dalam kegiatan anti-Komunis, yang kemudian ia dijatuhi hukuman
mati oleh pemerintah Komunis yang menang pada saat itu. Namun ia berhasil lari
ke pengasingan dan bebas dari hukuman. Pada 1923 ia beremigrasi ke Amerika
Serikat dan menetap secara tetap pada tahun 1930. Sorokin adalah profesor sosiologi
di University of Minnesota (1924-30) dan di Universitas Harvard (1930-55), di
mana ia mendirikan Departemen Sosiologi.
Tulisannya
mencakup luasnya sosiologi; yang kontroversial teori proses sosial dan tipologi
historis budaya yang diuraikan dalam Dinamika Sosial dan Budaya dan banyak
karya lain. Dia juga tertarik pada stratifikasi sosial, yang sejarah teori
sosiologis, dan perilaku altruistik. Sorokin adalah penulis buku seperti Krisis
usia kita dan Power dan moralitas, tetapi magnum opus adalah Dinamika Sosial
dan Budaya (1937-1941). Teori lazimnya memberikan kontribusi kepada teori
siklus social dan terinspirasi banyak sosiolog.Teori Integralistik Budaya
Puncak Perkembangan Intelektual Manusia
Dalam
Dinamika Sosial Budaya masyarakat ia diklasifikasikan sesuai dengan ‘mentalitas
budaya’ yang dapat ideasional (realitas adalah rohani), dapat merasa
(kenyataannya bahan), atau idealis. Masing-masing fase perkembangan budaya
tidak hanya berusaha untuk menggambarkan sifat realitas, tetapi juga menetapkan
sifat kebutuhan dan tujuan manusia untuk menjadi puas, sejauh mana mereka harus
puas, dan metode kepuasan.
4. Ibnu
Khaldun
“Sosiologi adalah ilmu
yang mempelajari tentang solidaritas sosial.”
Nama
lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar
Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. lahir
di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. adalah dikenal sebagai
sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai
ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena
pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh
telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo
(1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia
remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.Tulisan-tulisan dan
pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan
terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang
luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas
pula.
5. Herbert
Spencer
“Sosiologi adalah Ilmu
yang menyelidiki tentang susunan-susunan danproses kehidupan social sebagai
suatu keseluruhan / suatu system.”
Herbert
Spencer adalah seorang filsuf Inggris dan seorang pemikir teori liberal klasik
terkemuka. Meskipun kebanyakan karya yang ditulisnya berisi tentang teori
politik dan menekankan pada "keuntungan akan kemurahan hati", dia
lebih dikenal sebagai bapak Darwinisme sosial.
Spencer
lahir di Derbyshire, Midland, Inggris pada 27 April 1820. Dia adalah salah satu
anak dari sembilan bersaudara yang bertahan hidup dari pasangan William dan
Haerriet Spencer, guru sekolah di Derbyshire. Karena alasan kesehatan, Spencer
kecil menjalani pendidikan di rumah. Dia belajar teknik dan bidang utilitarian.
Saat
berusia 17 tahun, Spencer terjun ke dunia kerja sebagai insinyur sipil di
sebuah perusahaan kereta api London dan Birmingham. Karirnya terbilang bagus
hingga akhhirnya dia dipercaya menjadi wakil kepala bagian mesin di perusahaan
tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya bekerja di perusahaan kereta api,
kemudian pindah pekerjaan menjadi redaktur majalah The Economist yang saat itu
terkenal. Spencer mempunyai sebuah kemampuan yang luar biasa dalam hal mekanik.
Hal ini akan ikut serta mewarnai seluruh imajinasinya tentang biologi dan
sosial di masa yang akan datang Selama periode ini Spencer melanjutkan studi
atas biaya sendiri.
Spencer
memiliki kemampuan sangat baik dalam mekanika. Kemampuan itulah yang
mempengaruhi imajinasinya dalam ilmu pengetahuan, terutama biologi, masyarakat,
dan ilmu sosial. Pada saat menjadi insinyur inilah Spencer mulai belajar
menulis artikel secara serius. Tulisan pertamanya di bidang sosial dengan judul
On the Proper Sphere of Government (1842) dimuat di majalah Non Conformist.
Enam tahun kemudian tulisan yang sama dimuat The Economist, majalah ekonomi
terkemuka yang berbasis di London.
Saat
menginjak 28 tahun dia pindah menjadi wakil editor majalah The Economist,
berita mingguan yang berbasis di London. Majalah ini merupakan oposisi
pemerintah dan pendukung perdagangan bebas. Melalui majalah ini Spencer banyak
bertemu dengan orang terkenal pada saat itu, seperti Thomas Huxley dan George Eliot.
Saat
usianya memasuki 30 tahun, Spencer telah mampu menerbitkan buku pertamanya yang
berjudul Social Statics. Spencer adalah orang yang pertama kali memperkenalkan
konsep Survival of The Fittest atau yang kuatlah yang akan menang dalam bukunya
Social Statics yang terbit pada tahun 1850. Konsep ini untuk meggambarkan
kekuatan fundamental ilmu biologi yang menjadi dasar perkembangan evolusioner.
Konsepsi ini dipengaruhi karya Thomas R. Malthus mengenai tekanan kependudukan,
An Essay on The Principle of Population (1798). Isi konsepnya antara lain
adalah perjuangan untuk dapat bertahan bagi suatu masyarakat atau bagi beberapa
masyarakat agar menghasilkan keseimbangan karena perubahan yang terjadi dari
keadaan yang homogen yang tidak terpadu menjadi heterogen yang terpadu.
Sembilan
tahun kemudian teori evolusioner karya Darwin terbit. Spencer dan Darwin
melihat adanya persamaan antara evolusi organisme dengan evolusi sosial.
Evolusi sosial adalah serangkaian perubahan sosial dalam masyarakat yang
langsung dalam waktu lama yang berawal dari kelompok suku atau masyarakat yang
masih sederhana dan homogen kemudian secara bertahap menjadi kelompok suku atau
masyarakat yang lebih maju dan akhirnya menjadi masyarakat modern yang
kompleks.
6. Emile
Durkheim
“Sosiologi adalah suatu
ilmu yang mempelajari fakta – afakta sosial, yakni faka yang mengandung cara
bertindak, berpikir, berperaasaan yang berada diluar individu dimana fakta –
fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.”
Durkheim
dilahirkan di Épinal, Perancis, yang terletak di Lorraine. Ia berasal dari
keluarga Yahudi Perancis yang saleh - ayah dan kakeknya adalah Rabi. Hidup
Durkheim sendiri sama sekali sekular. Malah kebanyakan dari karyanya
dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari
faktor-faktor sosial dan bukan ilahi. Namun, latar belakang Yahudinya membentuk
sosiologinya - banyak mahasiswa dan rekan kerjanya adalah sesama Yahudi, dan
seringkali masih berhubungan darah dengannya.
Durkheim
adalah mahasiswa yang cepat matang. Ia masuk ke École Normale Supérieure pada
1879. Angkatannya adalah salah satu yang paling cemerlang pada abad ke-19 dan
banyak teman sekelasnya, seperti Jean Jaurès dan Henri Bergson kemudian menjadi
tokoh besar dalam kehidupan intelektual Perancis. Di ENS Durkheim belajar di
bawah Fustel de Coulanges, seorang pakar ilmu klasik, yang berpandangan ilmiah
sosial. Pada saat yang sama, ia membaca karya-karya Auguste Comte dan Herbert
Spencer. Jadi, Durkheim tertarik dengan pendekatan ilmiah terhadap masyarakat
sejak awal kariernya. Ini adalah konflik pertama dari banyak konflik lainnya
dengan sistem akademik Prancis, yang tidak mempunyai kurikulum ilmu sosial pada
saat itu. Durkheim merasa ilmu-ilmu kemanusiaan tidak menarik. Ia lulus dengan
peringkat kedua terakhir dalam angkatannya ketika ia menempuh ujian agrégation
– syarat untuk posisi mengajar dalam pengajaran umum – dalam ilmu filsafat pada
1882.
Minat
Durkheim dalam fenomena sosial juga didorong oleh politik. Kekalahan Perancis
dalam Perang Perancis-Prusia telah memberikan pukulan terhadap pemerintahan
republikan yang sekular. Banyak orang menganggap pendekatan Katolik, dan sangat
nasionalistik sebagai jalan satu-satunya untuk menghidupkan kembali kekuasaan
Perancis yang memudar di daratan Eropa. Durkheim, seorang Yahudi dan sosialis,
berada dalam posisi minoritas secara politik, suatu situasi yang membakarnya
secara politik. Peristiwa Dreyfus pada 1894 hanya memperkuat sikapnya sebagai
seorang aktivis.
Seseorang
yang berpandangan seperti Durkheim tidak mungkin memperoleh pengangkatan
akademik yang penting di Paris, dan karena itu setelah belajar sosiologi selama
setahun di Jerman, ia pergi ke Bordeaux pada 1887, yang saat itu baru saja
membuka pusat pendidikan guru yang pertama di Prancis. Di sana ia mengajar
pedagogi dan ilmu-ilmu sosial (suatu posisi baru di Prancis). Dari posisi ini
Durkheim memperbarui sistem sekolah Prancis dan memperkenalkan studi Ilmu-ilmu
sosial dalam kurikulumnya. Kembali, kecenderungannya untuk mereduksi moralitas
dan agama ke dalam fakta sosial semata-mata membuat ia banyak dikritik.
Tahun
1890-an adalah masa kreatif Durkheim. Pada 1893 ia menerbitkan “Pembagian Kerja
dalam Masyarakat”, pernyataan dasariahnya tentang hakikat masyarakat manusia
dan perkembangannya. Pada 1895 ia menerbitkan “Aturan-aturan Metode
Sosiologis”, sebuah manifesto yang menyatakan apakah sosiologi itu dan
bagaimana ia harus dilakukan. Ia pun mendirikan Jurusan Sosiologi pertama di
Eropa di Universitas Bourdeaux. Pada 1896 ia menerbitkan jurnal L'Année
Sociologique untuk menerbitkan dan mempublikasikan tulisan-tulisan dari
kelompok yang kian bertambah dari mahasiswa dan rekan (ini adalah sebutan yang
digunakan untuk kelompok mahasiswa yang mengembangkan program sosiologinya).
Dan akhirnya, pada 1897, ia menerbitkan “Bunuh Diri”, sebuah studi kasus yang
memberikan contoh tentang bagaimana bentuk sebuah monograf sosiologi.
Pada
1902 Durkheim akhirnya mencapai tujuannya untuk memperoleh kedudukan terhormat
di Paris ketika ia menjadi profesor di Sorbonne. Karena universitas-universitas
Perancis secara teknis adalah lembaga-lembaga untuk mendidik guru-guru untuk
sekolah menengah, posisi ini memberikan Durkheim pengaruh yang cukup besar –
kuliah-kuliahnya wajib diambil oleh seluruh mahasiswa. Apapun pendapat orang,
pada masa setelah Peristiwa Dreyfus, untuk mendapatkan pengangkatan politik,
Durkheim memperkuat kekuasaan kelembagaannya pada 1912 ketika ia secara
permanen diberikan kursi dan mengubah namanya menjadi kursi pendidikan dan
sosiologi. Pada tahun itu pula ia menerbitkan karya besarnya yang terakhir
“Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Keagamaan”.
Perang
Dunia I mengakibatkan pengaruh yang tragis terhadap hidup Durkheim. Pandangan
kiri Durkheim selalu patriotik dan bukan internasionalis – ia mengusahakan
bentuk kehidupan Perancis yang sekular, rasional. Tetapi datangnya perang dan
propaganda nasionalis yang tidak terhindari yang muncul sesudah itu membuatnya
sulit untuk mempertahankan posisinya.
Sementara
Durkheim giat mendukung negaranya dalam perang, rasa enggannya untuk tunduk
kepada semangat nasionalis yang sederhana (ditambah dengan latar belakang
Yahudinya) membuat ia sasaran yang wajar dari golongan kanan Perancis yang kini
berkembang. Yang lebih parah lagi, generasi mahasiswa yang telah dididik
Durkheim kini dikenai wajib militer, dan banyak dari mereka yang tewas ketika
Perancis bertahan mati-matian. Akhirnya, René, anak laki-laki Durkheim sendiri
tewas dalam perang – sebuah pukulan mental yang tidak pernah teratasi oleh
Durkheim. Selain sangat terpukul emosinya, Durkheim juga terlalu lelah bekerja,
sehingga akhirnya ia terkena serangan lumpuh dan meninggal pada 1917.
7. Mochtar
Naim
Mochtar
Naim adalah antropolog dan sosiolog Indonesia ternama yang dikenal sebagai pakar
budaya Minangkabau. Ia merupakan pendiri dari Pusat Studi Minangkabau (Center
for Minangkabau Studies). Selama tiga tahun berturut-turut sejak didirikannya
pusat studi tersebut, Ia terus mengadakan berbagai macam kegiatan, penelitian,
serta seminar mengenai kebudayaan masyarakat Minangkabau.
Pada
awal 1971, Mochtar melakukan penelitian tentang pola migrasi suku Minangkabau
dengan judul “Merantau: Minangkabau Voluntary Migration” (Merantau: Pola
Migrasi Suku Minangkabau” sebagai disertasinya semasa studinya di University of
Singapore. Hasil penelitian itu diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press
pada tahun 1979 dan dipakai secara luas dan seringkali menjadi rujukan di
bidang sosiologi.
Mochtar
merupakan orang yang menemukan istilah “Minang-Kiau”, yang merujuk pada
kebiasaan orang Minang yang gemar merantau dan berdagang. Menurutnya, sudah
merupakan karakter dari masyarakat
minangkabau ialah suka berpikir dan menelaah yang mana oleh karena itu banyak
tokoh-tokoh berpengaruh yang dilahirkan dari masyarakat Minangkabau.
Mochtar
meyakini bahwa kebudayaan masyarakat Minangkabau demikian unik karena sistem
kekerabatannya yang matrilineal, sistem sosialnya yang egaliter dan demokratis,
serta orientasi filosofinya yang sintetik dan universal cenderung berbeda
dengan kebudayaan masyarakat Jawa. Meskipun beberapa kali mengajar di perguruan
tinggi sebagai dosen luar biasa, Mochtar tidak pernah meminta untuk diangkat
menjadi pegawai negeri, namun pernah diangkat sebagai pegawai negeri karena
adanya desakan dari Rektor Mawardi Yunus dengan dispensasi dari Presiden dan
pension pada tahun 1988.
Mochtar
juga pernah menjabat sebagai anggota selama 10 tahun di Majelis Permusyawaratan
Republik Indonesia (MPR-RI) (1999-2004, 2004-2009) dan 5 tahun di Dewan
Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) (2004-2009).
7
AHLI POLITIK
1. Ramlan
Surbakti
“Politik adalah interaksi
antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan
keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal dalam
suatu wilayah tertentu. Ilmu Politik adalah interaksi antara pemerintah dan
masyarakat, dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang
mengikat tentang kebaikan bersama masayarakat yang tinggal dalam suatu wilayah
tertentu.”
Lahir
di Tanjung Merawa, Kabupaten
Karo, Sumatera Utara, 20 Juli 1953; umur 62 tahun)
adalah seorang akademisi sekaligus praktisi Pemilihan
Umum (Pemilu) yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada
priode 2004-2007. Pada Pemilu 1999, Ramlan pernah pula menjadi anggota Panwaslu
Pusat, selanjutnya, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman
Wahid, Ramlan dipercaya menjadi anggota KPU.
2. Karl W Deutsch
“Politik adalah
pengambilan keputusan melalui sarana umum (Politics is the making of decisions
by public means).”
(21
Juli 1912-1 November 1992) adalah seorang sosial dan ilmuwan politik dari Praha. Karyanya
berfokus pada studi perang dan damai , nasionalisme , kerjasama dan komunikasi . Dia juga terkenal karena minatnya dalam
memperkenalkan metode kuantitatif dan formal analisis sistem dan model pemikiran ke dalam bidang ilmu
politik dan sosial, dan merupakan salah satu ilmuwan sosial yang paling terkenal
dari abad ke-20.
Lahir
dari keluarga berbahasa Jerman di Praha pada 21 Juli, 1912 ketika kota itu bagian
dari Kekaisaran Austro-Hungaria , Deutsch
menjadi warga negara Cekoslowakia setelah Perang Dunia I . Ibunya Maria Leopoldina
Scharf Deutsch [1] adalah
seorang Demokrat Sosial , dan wanita pertama yang
terpilih menjadi anggota parlemen Cekoslowakia (1918) di mana ia menjadi
terkenal karena penolakannya untuk Nazisme Ayahnya Martin Morritz Deutsch dimiliki toko
optik di Praha Wenceslas Square , dan juga aktif di Partai Pekerja Sosial Demokrat
Cekoslowakia ini . Pamannya Julius Deutsch adalah seorang pemimpin
politik yang penting di Partai Sosial Demokrat Austria .
Karl
belajar hukum di Universitas Jerman di Praha, di mana ia lulus pada tahun 1934.
studi lebih lanjut Dia dihentikan sebagai sikap terbuka anti-Nazi yang
disebabkan oposisi oleh mahasiswa pro-Nazi. Karl menikahi istrinya Ruth
Slonitz pada tahun 1936, dan setelah menghabiskan dua tahun di Inggris, kembali
ke Praha di mana karena mantan kegiatan Anti-Nazi, ia tidak bisa kembali ke
Universitas Jerman. Dia malah bergabung rekan Republik, yang Universitas Charles , di mana ia
memperoleh gelar sarjana hukum dalam hukum internasional dan kanon PhD di Ilmu Politik pada tahun 1938. Pada tahun
yang sama, yang melihat Perjanjian Munich yang memungkinkan pasukan
Jerman memasuki Sudetenland , ia dan istrinya tidak
kembali dari perjalanan ke Amerika Serikat. Pada tahun 1939 Deutsch
memperoleh beasiswa untuk melakukan penelitian lanjutan di Harvard University di mana ia menerima
gelar PhD kedua di ilmu politik pada tahun 1951.
Selama Perang Dunia II ia bekerja untuk Office of Strategic Services , dan berpartisipasi
sebagai mahasiswa pascasarjana di konferensi San Francisco yang
mengakibatkan penciptaan PBB pada tahun 1945. Deutsch mengajar
di beberapa universitas; pertama di MIT 1943-1956; kemudian di Yale University sampai tahun
1967; dan lagi di Harvard sampai tahun 1982. Ia menjabat sebagai Stanfield
Profesor Perdamaian Internasional di Harvard, posisi yang dipegangnya sampai
kematiannya.
Deutsch
bekerja secara luas pada cybernetics, tentang penerapan model simulasi dan
sistem dinamika untuk mempelajari masalah-masalah sosial, politik, dan ekonomi,
yang dikenal sebagai masalah yang jahat . Ia dibangun di
atas upaya sebelumnya di dunia modeling seperti yang maju dan dianjurkan oleh
penulis Club of Rome seperti Limits to Growth oleh Donella Meadows , et
al. (1972). Dia memperkenalkan konsep-konsep baru seperti komunitas keamanan literatur.
Dia
memegang beberapa posisi bergengsi lainnya; ia adalah anggota dewan Dunia
Masyarakat Yayasan di Zürich , Swiss dari tahun 1984 dan seterusnya. Dia juga terpilih
sebagai Presiden Asosiasi Ilmu Politik Amerika pada
tahun 1969, dari Asosiasi Ilmu Politik Internasional pada
tahun 1976, dan dari Masyarakat untuk Sistem Umum
Penelitian pada tahun 1983. Dari 1977-1987, ia adalah
Direktur Ilmu Sosial Research Center Berlin (
Wissenschaftszentrum Berlin für Sozialforschung, WZB )
di Berlin .
Dia
meninggal di Cambridge, Massachusetts pada tanggal
1 November 1992. Dia memiliki dua anak perempuan, Mary D. Edsall, seorang
penulis (istri Thomas Edsall ), dan Margaret D. Carroll,
seorang sejarawan seni, dan tiga cucu, Alexandra Edsall, Sophia Carroll , dan
Samuel Carroll.
3. DeliarNoer
“Politik adalah segala
aktivitas atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan yang bermaksud untuk
mempengaruhi, dengan jalan mengubah atau mempertahankan, suatu macam bentuk
susunan masyarakat.”
Lahir
di Medan, Sumatera
Utara, 9 Februari 1926 – meninggal
di Jakarta, 18 Juni 2008 pada umur 82
tahun), adalah seorang dosen, pemikir, peneliti, dan politikus asal Indonesia.
Ia pernah menjabat sebagai rektor IKIP Jakarta, pendiri dan ketua umum
Partai Umat Islam. Deliar merupakan sedikit dari intelektual dan ilmuwan
politik yang memiliki integritas tinggi dan aktif menulis. Ia juga merupakan
salah seorang perintis dasar-dasar pengembangan ilmu politik di Indonesia.
Pemikiran
Deliar Noer, tentang Politik Indonesia mengalami pasang naik dan pasang surut
dalam kehidupan bernegara di tanah air, bahkan sebelum Indonesia berbentuk
negara di abad ke-20 yaitu ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Di masa
penjajahan, telah disebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia, jadi melepaskan diri
dari ikatan Belanda dan merupakan tujuan utama. Dalam perjalanan pergerakan
untuk menjadi sebuah bangsa yang berdaulat Deliar Noer membagi kedalam tiga
kelompok yakni; pertama, Ahli atau peserta pergerakan terlibat
langsung dalam berpolitik, karena begitu hebatnya mereka menggerakan rakyat
untuk tidak buta politik, tidak takut politik dan tidak berdiam diri dengan
keadaan politik yang dihadapi. kedua, orang yang memang tidak ingin
atau enggan untuk turut serta dalam perjuangan kemerdekaan itu, menurutnya
pihak ini adalah mereka yang takut akan politik, disadari atau tidak, telah
serta juga dalam kehidupan politik. Karena mereka telah memilih suatu
alternative dalam kehidupan berpolitik walaupun secar pasif. Ketiga, kelompok
yang anti terhadap kemerdekaan yakni orang-orang yang aktif menentang usaha
pergerakan dan membantu usaha-usaha hindia belanda untuk mematikan dan,
sekurang-kurangnya, menghambat jalan pergerakan tersebut, menurutnya mereka telah
dipandang sebagai orang-orang yang berpolitik walaupun dalam perjuangan
kemerdekaan dipandang merugikan pergerakan kemerdekaan.
4. Prof Miriam Budiardjo
“Politik adalah
bermacam-macam kegiatan dalam suatu system politik atau Negara yang menyangkut
proses menentukan tujuan-tujuan system itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu.”
Lahir
di Kediri, Jawa Timur, 20 November 1923 – meninggal
di Jakarta, 8 Januari 2007 pada umur 83
tahun) adalah pakar ilmu politik Indonesia dan
mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.
Istri Ali Budiardjo, seorang tokoh perjuangan
Indonesia, ini pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI)
periode 1974–1979. Ia masih bersaudara
dengan Soedjatmoko.
5. Ossip
Kurt Flechtheim
“Ilmu politik adalah ilmu
sosial yang khusus mempelajari sifat dan tujuan dari negara sejauh negara
merupakan organisasi kekuasaan, beserta sifat dan tujuan dari gejala-gejala
kekuasaan lain yang tidak resmi yang dapat mempengaruhi negara.”
Lahir 5 Maret 1909 di Nikolaev , Kekaisaran Rusia ; † 4. Maret tahun 1998 di Berlin adalah seorang Jerman profesor universitas dan penulis . The pengacara dan ilmuwan politik adalah salah satu pendiri
dari futurologi di Jerman. Flechtheim adalah anak dari
penjual buku Hermann Flechtheim (1880-1960) [1] dan
istrinya Olga, lahir Farber (1884-1964). [2] Keluarganya
pindah pada tahun 1910 kembali ke Westphalia Münster , rumah Bapa, di mana kerabat di
sereal grosir aktif yang (→ Flechtheimspeicher ), dan kemudian
untuk Dusseldorf . Kedua orang tua adalah anggota komunitas Yahudi . Ossip
Flechtheim itu tetap tidak religius tertarik. Sebagai non-denominasi humanis dia setelah Perang Dunia Kedua di Berlin Barat Anggota dari Jerman free thinker federasi
eV (kemudian Asosiasi Humanis Jerman ).
Setelah
lulus dari Hindenburg Sekolah (sekarang Humboldt-Gymnasium Dusseldorf ), yang
selesai pada tahun 1927, ia pindah ke KPD . Karena sempitnya ideologi
partai ia bergabung pada tahun 1931 setelah lima tahun dan Moskow -Travel dari lagi. Flechtheim belajar hukum
dan ilmu politik di Universitas Freiburg , Paris , Heidelberg , Berlin dan akhirnya Cologne . Dari tahun 1931 sampai
1933 ia menyelesaikan tulis-hukumnya di Pengadilan Daerah yang lebih tinggi Dusseldorf . Dia
masih pada tahun 1934 di Cologne dengan Carl Schmitt dengan karya Hegel teori pidana Dr. jur. doktor. Edisi
cetak yang diperlukan tidak bisa melakukan di luar negeri (Rohrer-Verlag, Brno 1936) muncul.
6. David Easton
“Ilmu politik adalah
studi mengenai terbentuknya kebijakan umum (study of the making of public
policy).”
Lahir 24
Juni 1917 - 19 Juli 2014 adalah seorang Kanada -born Amerika ilmuwan politik . Easton, yang lahir
di Toronto , Ontario, datang ke Amerika Serikat pada tahun
1943. Dari 1947-1997, ia menjabat sebagai profesor ilmu politik di University
of Chicago.
Di
garis depan dari kedua behavioralist dan pasca-behavioralist revolusi dalam
disiplin ilmu politik selama tahun 1950 dan 1970-an, Easton disediakan definisi
disiplin yang paling banyak digunakan dari politik sebagai alokasi otoritatif
nilai-nilai bagi masyarakat. Dia terkenal untuk aplikasi tentang teori
sistem untuk mempelajari ilmu politik. analis kebijakan telah digunakan
skema lima kali lipat nya untuk mempelajari pembuatan kebijakan proses: input,
konversi, output, umpan balik dan lingkungan. Gunnell berpendapat bahwa
sejak tahun 1950-an konsep "sistem" adalah konsep teoritis yang
paling penting yang digunakan oleh para ilmuwan politik Amerika. Idenya
muncul dalam sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya tapi itu Easton yang
ditentukan bagaimana hal itu bisa terbaik diterapkan untuk penelitian perilaku
politik. [1]
Selama
karirnya, ia telah menjabat sebagai gatekeeper kunci, sebagai konsultan untuk
banyak organisasi terkemuka dan lembaga pendanaan, dan penulis berbagai
publikasi ilmiah berpengaruh. Ia telah bertugas di berbagai dewan dan
komite dan presiden dari Asosiasi Ilmu Politik Amerika .
7. Roger Frederick Wicker
“Ilmu Politik mempelajari
negara, tujuan-tujuan negara dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan
tujuan-tujuan itu, hubungan antara negara dengan warganya serta hubungan
antarnegara”
Lahir
5 Juli 1951) adalah seorang politisi Amerika dan anggota Partai Republik yang
menjabat sebagai junior Senator Amerika Serikat dari Mississippi , di kantor sejak tahun 2007.
Setelah
lulus dari University of Mississippi , Wicker
bertugas di Angkatan Udara Amerika Serikat 1976-1980
dan bekerja sebagai penasihat politik untuk kemudian Kongres Trent Lott . Dia kemudian bertugas
di Senat Negara Bagian Mississippi 1988-1994,
ketika ia terpilih menjadi anggota DPR AS dari distrik kongres 1 Mississippi ,
berhasil lama pensiun Demokrat Jamie L. Whitten , untuk siapa Wicker
dulunya Halaman.
Anyaman
bertugas di Gedung dari Januari 1995 sampai Desember 2007, ketika ia diangkat
oleh Gubernur Haley Barbour untuk mengisi kursi yang
ditinggalkan oleh Trent Lott. Ia kemudian memenangkan pemilihan
khusus 2008 untuk sisa istilah dan terpilih kembali untuk masa
jabatan penuh pada tahun
2012 . Dia saat ini menjabat sebagai Ketua Komite senator Partai Republik
Nasional untuk Kongres AS 114.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar