my happy family

my happy family

Rabu, 13 April 2016

BIOGRAFI DAN PENDAPAT AHLI SOSIOLOGI DAN POLITIK

7 AHLI SOSIOLOGI
1.           Prof. Dr. Selo Soemardjan
“Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.”
Kanjeng Pangeran Haryo Prof. Dr. Selo Soemardjan adalah seorang tokoh pendidikan dan pemerintahan Indonesia. Penerima Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah ini adalah pendiri sekaligus dekan pertama Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (kini FISIP-UI) dan sampai akhir hayatnya dengan setia menjadi dosen sosiologi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).
Ia merupakan sosok yang sangat disiplin dan selalu memberi  teladan yang nyata. Berkat sosoknya, masyarakat mendapatkan bekal banyak ilmu pengetahuan. Berdasarkan batasan usia, seharusnya ia sudah purnatugas di Universitas Indonesia (UI), namun ia tetap mengajar dengan semangat tinggi karena masih dibutuhkan. Ia memang sosok berintegritas, punya komitmen sosial yang tinggi dan sulit untuk diam.
Ia orang yang tidak suka memerintah, tetapi memberi teladan. Hidupnya lurus, bersih, dan sederhana. Ia tokoh yang memerintah dengan teladan, sebagaimana diungkapkan pengusaha sukses Soedarpo Sastrosatomo. Menurut Soedarpo, integritas itu pula yang membuat mendiang Sultan Hamengku Buwono IX berpesan kepada putranya, Sultan Hamengku Buwono X agar selalu mendenarkan dan meminta nasihat kepada Selo kalau menyangkut persoalan sosial kemasyarakatan. Ia orang yang tidak pernah berhenti berpikir dan bertindak.Ia seorang dari sedikit orang yang pantas menyerukan hentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Pantas karena ia bukan tipe maling teriak maling. Ia orang-orang bersih yang dengan perangkat ilmu dan keteladannya bisa menunjukkan bawa praktik KKN itu merusak tatanan sosial. Ia pantas menjadi teladan kaum birokrat karena etos kerjanya yang tingggidalam mengabdi kepada masyarakat.
Selama hidupnya, Selo pernah berkarier sebagia pegawai Kesultanan/Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Sekretariat Staf Keamanan Kabinet Perdana Menteri, Kepala Staf Sipi Gubernur Militer Jakarta Raya, Kepala Biro III Sekretariat Negara merangkap Sekretaris Umum Badan Pemeriksa Keuangan, Sekrtaris Wakil Presiden RI Sultan Hamengku Buwono IX (1973 – 1978), Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejateraan Rakyat (1978 – 1983) dan Staf Ahli Presiden HM Soeharto.
Ia dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia setelah tahun 1959 -- seusai meraih gelar doktornya di Cornell University, AS -- mengajar sosiologi di Universitas Indonesia (UI). Dialah pendiri sekaligus dekan pertama (10 tahun) Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (sekarang FISIP) UI. Kemudian tanggal 17 Agustus 1994, ia menerima Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah dan pada tanggal 30 Agustus menerima gelar ilmuwan utama sosiologi.
Pendiri FISIP UI ini, memperoleh gelar profesor dari Fakultas Ekonomi UI dan sampai akhir hayatnya justeru mengajar di Fakultas Hukum UI. Ia dibesarkan di lingkungan abdi dalem Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Kakeknya, Kanjeng Raden Tumenggung Padmonegoro, adalah pejabat tinggi di kantor Kasultanan Yogyakarta. Berkat jasa sang kakek, Soemardjan- begitu nama aslinya-mendapat pendidikan Belanda.
Nama Selo dia peroleh setelah menjadi camat di Kabupaten Kulonprogo. Ini memang cara khusus Sultan Yogyakarta membedakan nama pejabat sesuai daerahnya masing-masing. Saat menjabat camat inilah ia merasa mengawali kariernya sebagai sosiolog. "Saya adalah camat yang mengalami penjajahan Belanda, masuknya Jepang, dilanjutkan dengan zaman revolusi. Masalahnya banyak sekali," tuturnya suatu ketika sebagaimana ditulis Kompas.
Pengalamannya sebagai camat membuat Selo menjadi peneliti yang mampu menyodorkan alternatif pemecahan berbagai persoalan sosial secara jitu. Ini pula yang membedakan Selo dengan peneliti lain. Mendiang Baharuddin Lopa dalam salah satu tulisannya di Kompas (1993) menulis, "Pak Selo menggali ilmu langsung dari kehidupan nyata. Setelah diolah, dia menyampaikan kembali kepada masyarakat untuk dimanfaatkan guna kesejahteraan bersama." Lopa menilai Selo sebagai dosen yang mampu mendorong mahasiswanya berpikir realistis dan mengerti serta menghayati apa yang diajarkannya. "Pendekatan realistis dan turun ke bawah untuk mengetahui keadaan sosial yang sesungguhnya inilah yang dicontohkan juga oleh para nabi dan kalifah," tulis Lopa.
Meski lebih dikenal sebagai guru besar, Selo jauh dari kesan orang yang suka "mengerutkan kening". Di lingkungan keluarga dan kampus, dia justru dikenal sebagai orang yang suka melucu dan kaya imajinasi, terutama untuk mengantar mahasiswanya pada istilah-istilah ilmu yang diajarkannya. "Kalau menjelaskan ilmu ekonomi mudah dimengerti karena selalu disertai contoh-contoh yang diambil dari kehidupan nyata masyarakat," kenang Baharuddin Lopa. Dalam tulisan Lopa, Selo juga digambarkan sebagai orang yang bicaranya kocak, tetapi mudah dimengerti karena memakai bahasa rakyat. Meski kata-katanya mengandung kritikan, karena disertai humor, orang menjadi tidak tegang mendengarnya.
Menurut putra sulungnya, Hastjarjo, Selo suka main. "Setiap hari selalu memainkan tubuhnya berolahraga senam. Karena terkesan lucu, cucu-cucu menganggap bapak sedang bermain-main dengan tubuhnya," tambahnya.
Sebagai ilmuwan, karya Selo yang sudah dipublikasikan adalah Social Changes in Yogyakarta (1962) dan Gerakan 10 Mei 1963 di Sukabumi (1963). Penelitian terakhir Selo berjudul Desentralisasi Pemerintahan. Terakhir ia menerima Anugerah Hamengku Buwono (HB) IX dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada puncak peringatan Dies Natalis Ke-52 UGM tanggal 19 Januari 2002 diwujudkan dalam bentuk piagam, lencana, dan sejumlah uang
2.           Auguste Comte
“Sosiologi adalah Suatu disiplin ilmu yang bersifat positif yaitu mempelajari gejala-gejala dalam masyarakat yang didasarkan pada pemikiran yang bersifat rasional dan ilmiah.”
Auguste Comte adalah seorang filsuf Perancis yang dikenal karena memperkenalkan bidang ilmu sosiologi serta aliran positivisme. Melalui prinsip positivisme, Comte membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian metode ilmiah dalam ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran.
Auguste Comte disebut sebagai Bapak Sosiologi karena dialah yang pertama kali memakai istilah sosiologi dan mengkaji sosiologi secara sistematis, sehingga ilmu tersebut melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sejak pertengahan abad ke-19 (1856).
Comte lahir di Montpellier, sebuah kota kecil di bagian barat daya dari negara Perancis pada 19 Februari 1798. Setelah bersekolah disana, ia melanjutkan pendidikannya di École Polytechnique di Paris. École Polytechnique saat itu terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis republikanisme dan filosofi proses. Pada tahun 1816, politeknik tersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte pun meninggalkan École dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier.
Tak lama kemudian, ia melihat sebuah perbedaan yang mencolok antara agama Katolik yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki yang berkuasa sehingga ia terpaksa meninggalkan Paris. Kemudian pada bulan Agustus 1817 dia menjadi murid sekaligus sekretaris dari Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang kemudian membawa Comte masuk ke dalam lingkungan intelek. Pada tahun 1824, Comte meninggalkan Saint-Simon karena lagi-lagi ia merasa ada ketidakcocokan dalam hubungannya.
Saat itu, Comte mengetahui apa yang ia harus lakukan selanjutnya: meneliti tentang filosofi positivisme. Rencananya ini kemudian dipublikasikan dengan nama Plan de travaux scientifiques nécessaires pour réorganiser la société (1822) (Indonesia: Rencana studi ilmiah untuk pengaturan kembali masyarakat). Tetapi ia gagal mendapatkan posisi akademis sehingga menghambat penelitiannya. Kehidupan dan penelitiannya kemudian mulai bergantung pada sponsor dan bantuan finansial dari beberapa temannya.
Ia kemudian menikahi seorang wanita bernama Caroline Massin. Comte dikenal arogan, kejam dan mudah marah sehingga pada tahun 1826 dia dibawa ke sebuah rumah sakit jiwa, tetapi ia kabur sebelum sembuh. Kemudian setelah kondisinya distabilkan oleh Massin, ia mengerjakan kembali apa yang dulu direncanakannya. Namun sayangnya, ia bercerai dengan Massin pada tahun 1842 karena alasan yang belum diketahui. Saat-saat di antara pengerjaan kembali rencananya sampai pada perceraiannya, ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Le Cours de Philosophie Positivistic.
Pada tahun 1844, Comte menjalin kasih dengan Clotilde de Vaux, dalam hubungan yang tetap platonis. Setelah Clotilde wafat, kisah cinta ini menjadi quasi-religius. Tak lama setelahnya, Comte, yang merasa dirinya adalah seorang penemu sekaligus seorang nabi dari "agama kemanusiaan" (religion of humanity), menerbitkan bukunya yang berjudul Système de politique positive (1851 - 1854). Dia wafat di Paris pada tanggal 5 September 1857 dan dimakamkan di Cimetière du Père Lachaise.
3.           Pitirim A. Sorokin
“Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara anekamacam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologiadalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosialdengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciriumum semua jenis gejala-gejala sosial lain.”
Pitirim Alexandrovich Sorokin lahir di Rusia pada 21 Januari 1889. Beliau adalah seorang akademis dan aktivis politik di Rusia, ia beremigrasi dari Rusia ke Amerika Serikat pada tahun 1923. Ia mendirikan Departemen Sosiologi di Universitas Harvard. Ia terkenal untuk sumbangannya kepada teori siklus sosial.
Pitirim menempuh pendidikan di Universitas St Petersburg setelah itu ia mengajar pada bidang sosiologi dan hukum. Sorokin dipenjarakan tiga kali oleh rezim tsar Rusia Kekaisaran; selama Revolusi Rusia ia adalah seorang anggota dari Alexander Kerensky ‘s Pemerintahan Sementara Rusia. Setelah Revolusi Oktober dia terlibat dalam kegiatan anti-Komunis, yang kemudian ia dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Komunis yang menang pada saat itu. Namun ia berhasil lari ke pengasingan dan bebas dari hukuman. Pada 1923 ia beremigrasi ke Amerika Serikat dan menetap secara tetap pada tahun 1930. Sorokin adalah profesor sosiologi di University of Minnesota (1924-30) dan di Universitas Harvard (1930-55), di mana ia mendirikan Departemen Sosiologi.
Tulisannya mencakup luasnya sosiologi; yang kontroversial teori proses sosial dan tipologi historis budaya yang diuraikan dalam Dinamika Sosial dan Budaya dan banyak karya lain. Dia juga tertarik pada stratifikasi sosial, yang sejarah teori sosiologis, dan perilaku altruistik. Sorokin adalah penulis buku seperti Krisis usia kita dan Power dan moralitas, tetapi magnum opus adalah Dinamika Sosial dan Budaya (1937-1941). Teori lazimnya memberikan kontribusi kepada teori siklus social dan terinspirasi banyak sosiolog.Teori Integralistik Budaya Puncak Perkembangan Intelektual Manusia
Dalam Dinamika Sosial Budaya masyarakat ia diklasifikasikan sesuai dengan ‘mentalitas budaya’ yang dapat ideasional (realitas adalah rohani), dapat merasa (kenyataannya bahan), atau idealis. Masing-masing fase perkembangan budaya tidak hanya berusaha untuk menggambarkan sifat realitas, tetapi juga menetapkan sifat kebutuhan dan tujuan manusia untuk menjadi puas, sejauh mana mereka harus puas, dan metode kepuasan.
4.           Ibnu Khaldun
“Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang solidaritas sosial.”
Nama lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.
5.           Herbert Spencer
“Sosiologi adalah Ilmu yang menyelidiki tentang susunan-susunan danproses kehidupan social sebagai suatu keseluruhan / suatu system.”
Herbert Spencer adalah seorang filsuf Inggris dan seorang pemikir teori liberal klasik terkemuka. Meskipun kebanyakan karya yang ditulisnya berisi tentang teori politik dan menekankan pada "keuntungan akan kemurahan hati", dia lebih dikenal sebagai bapak Darwinisme sosial.
Spencer lahir di Derbyshire, Midland, Inggris pada 27 April 1820. Dia adalah salah satu anak dari sembilan bersaudara yang bertahan hidup dari pasangan William dan Haerriet Spencer, guru sekolah di Derbyshire. Karena alasan kesehatan, Spencer kecil menjalani pendidikan di rumah. Dia belajar teknik dan bidang utilitarian.
Saat berusia 17 tahun, Spencer terjun ke dunia kerja sebagai insinyur sipil di sebuah perusahaan kereta api London dan Birmingham. Karirnya terbilang bagus hingga akhhirnya dia dipercaya menjadi wakil kepala bagian mesin di perusahaan tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya bekerja di perusahaan kereta api, kemudian pindah pekerjaan menjadi redaktur majalah The Economist yang saat itu terkenal. Spencer mempunyai sebuah kemampuan yang luar biasa dalam hal mekanik. Hal ini akan ikut serta mewarnai seluruh imajinasinya tentang biologi dan sosial di masa yang akan datang Selama periode ini Spencer melanjutkan studi atas biaya sendiri.
Spencer memiliki kemampuan sangat baik dalam mekanika. Kemampuan itulah yang mempengaruhi imajinasinya dalam ilmu pengetahuan, terutama biologi, masyarakat, dan ilmu sosial. Pada saat menjadi insinyur inilah Spencer mulai belajar menulis artikel secara serius. Tulisan pertamanya di bidang sosial dengan judul On the Proper Sphere of Government (1842) dimuat di majalah Non Conformist. Enam tahun kemudian tulisan yang sama dimuat The Economist, majalah ekonomi terkemuka yang berbasis di London.
Saat menginjak 28 tahun dia pindah menjadi wakil editor majalah The Economist, berita mingguan yang berbasis di London. Majalah ini merupakan oposisi pemerintah dan pendukung perdagangan bebas. Melalui majalah ini Spencer banyak bertemu dengan orang terkenal pada saat itu, seperti Thomas Huxley dan George Eliot.
Saat usianya memasuki 30 tahun, Spencer telah mampu menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Social Statics. Spencer adalah orang yang pertama kali memperkenalkan konsep Survival of The Fittest atau yang kuatlah yang akan menang dalam bukunya Social Statics yang terbit pada tahun 1850. Konsep ini untuk meggambarkan kekuatan fundamental ilmu biologi yang menjadi dasar perkembangan evolusioner. Konsepsi ini dipengaruhi karya Thomas R. Malthus mengenai tekanan kependudukan, An Essay on The Principle of Population (1798). Isi konsepnya antara lain adalah perjuangan untuk dapat bertahan bagi suatu masyarakat atau bagi beberapa masyarakat agar menghasilkan keseimbangan karena perubahan yang terjadi dari keadaan yang homogen yang tidak terpadu menjadi heterogen yang terpadu.
Sembilan tahun kemudian teori evolusioner karya Darwin terbit. Spencer dan Darwin melihat adanya persamaan antara evolusi organisme dengan evolusi sosial. Evolusi sosial adalah serangkaian perubahan sosial dalam masyarakat yang langsung dalam waktu lama yang berawal dari kelompok suku atau masyarakat yang masih sederhana dan homogen kemudian secara bertahap menjadi kelompok suku atau masyarakat yang lebih maju dan akhirnya menjadi masyarakat modern yang kompleks.

6.            Emile Durkheim
“Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta – afakta sosial, yakni faka yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperaasaan yang berada diluar individu dimana fakta – fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.”
Durkheim dilahirkan di Épinal, Perancis, yang terletak di Lorraine. Ia berasal dari keluarga Yahudi Perancis yang saleh - ayah dan kakeknya adalah Rabi. Hidup Durkheim sendiri sama sekali sekular. Malah kebanyakan dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari faktor-faktor sosial dan bukan ilahi. Namun, latar belakang Yahudinya membentuk sosiologinya - banyak mahasiswa dan rekan kerjanya adalah sesama Yahudi, dan seringkali masih berhubungan darah dengannya.
Durkheim adalah mahasiswa yang cepat matang. Ia masuk ke École Normale Supérieure pada 1879. Angkatannya adalah salah satu yang paling cemerlang pada abad ke-19 dan banyak teman sekelasnya, seperti Jean Jaurès dan Henri Bergson kemudian menjadi tokoh besar dalam kehidupan intelektual Perancis. Di ENS Durkheim belajar di bawah Fustel de Coulanges, seorang pakar ilmu klasik, yang berpandangan ilmiah sosial. Pada saat yang sama, ia membaca karya-karya Auguste Comte dan Herbert Spencer. Jadi, Durkheim tertarik dengan pendekatan ilmiah terhadap masyarakat sejak awal kariernya. Ini adalah konflik pertama dari banyak konflik lainnya dengan sistem akademik Prancis, yang tidak mempunyai kurikulum ilmu sosial pada saat itu. Durkheim merasa ilmu-ilmu kemanusiaan tidak menarik. Ia lulus dengan peringkat kedua terakhir dalam angkatannya ketika ia menempuh ujian agrégation – syarat untuk posisi mengajar dalam pengajaran umum – dalam ilmu filsafat pada 1882.
Minat Durkheim dalam fenomena sosial juga didorong oleh politik. Kekalahan Perancis dalam Perang Perancis-Prusia telah memberikan pukulan terhadap pemerintahan republikan yang sekular. Banyak orang menganggap pendekatan Katolik, dan sangat nasionalistik sebagai jalan satu-satunya untuk menghidupkan kembali kekuasaan Perancis yang memudar di daratan Eropa. Durkheim, seorang Yahudi dan sosialis, berada dalam posisi minoritas secara politik, suatu situasi yang membakarnya secara politik. Peristiwa Dreyfus pada 1894 hanya memperkuat sikapnya sebagai seorang aktivis.
Seseorang yang berpandangan seperti Durkheim tidak mungkin memperoleh pengangkatan akademik yang penting di Paris, dan karena itu setelah belajar sosiologi selama setahun di Jerman, ia pergi ke Bordeaux pada 1887, yang saat itu baru saja membuka pusat pendidikan guru yang pertama di Prancis. Di sana ia mengajar pedagogi dan ilmu-ilmu sosial (suatu posisi baru di Prancis). Dari posisi ini Durkheim memperbarui sistem sekolah Prancis dan memperkenalkan studi Ilmu-ilmu sosial dalam kurikulumnya. Kembali, kecenderungannya untuk mereduksi moralitas dan agama ke dalam fakta sosial semata-mata membuat ia banyak dikritik.
Tahun 1890-an adalah masa kreatif Durkheim. Pada 1893 ia menerbitkan “Pembagian Kerja dalam Masyarakat”, pernyataan dasariahnya tentang hakikat masyarakat manusia dan perkembangannya. Pada 1895 ia menerbitkan “Aturan-aturan Metode Sosiologis”, sebuah manifesto yang menyatakan apakah sosiologi itu dan bagaimana ia harus dilakukan. Ia pun mendirikan Jurusan Sosiologi pertama di Eropa di Universitas Bourdeaux. Pada 1896 ia menerbitkan jurnal L'Année Sociologique untuk menerbitkan dan mempublikasikan tulisan-tulisan dari kelompok yang kian bertambah dari mahasiswa dan rekan (ini adalah sebutan yang digunakan untuk kelompok mahasiswa yang mengembangkan program sosiologinya). Dan akhirnya, pada 1897, ia menerbitkan “Bunuh Diri”, sebuah studi kasus yang memberikan contoh tentang bagaimana bentuk sebuah monograf sosiologi.
Pada 1902 Durkheim akhirnya mencapai tujuannya untuk memperoleh kedudukan terhormat di Paris ketika ia menjadi profesor di Sorbonne. Karena universitas-universitas Perancis secara teknis adalah lembaga-lembaga untuk mendidik guru-guru untuk sekolah menengah, posisi ini memberikan Durkheim pengaruh yang cukup besar – kuliah-kuliahnya wajib diambil oleh seluruh mahasiswa. Apapun pendapat orang, pada masa setelah Peristiwa Dreyfus, untuk mendapatkan pengangkatan politik, Durkheim memperkuat kekuasaan kelembagaannya pada 1912 ketika ia secara permanen diberikan kursi dan mengubah namanya menjadi kursi pendidikan dan sosiologi. Pada tahun itu pula ia menerbitkan karya besarnya yang terakhir “Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Keagamaan”.
Perang Dunia I mengakibatkan pengaruh yang tragis terhadap hidup Durkheim. Pandangan kiri Durkheim selalu patriotik dan bukan internasionalis – ia mengusahakan bentuk kehidupan Perancis yang sekular, rasional. Tetapi datangnya perang dan propaganda nasionalis yang tidak terhindari yang muncul sesudah itu membuatnya sulit untuk mempertahankan posisinya.
Sementara Durkheim giat mendukung negaranya dalam perang, rasa enggannya untuk tunduk kepada semangat nasionalis yang sederhana (ditambah dengan latar belakang Yahudinya) membuat ia sasaran yang wajar dari golongan kanan Perancis yang kini berkembang. Yang lebih parah lagi, generasi mahasiswa yang telah dididik Durkheim kini dikenai wajib militer, dan banyak dari mereka yang tewas ketika Perancis bertahan mati-matian. Akhirnya, René, anak laki-laki Durkheim sendiri tewas dalam perang – sebuah pukulan mental yang tidak pernah teratasi oleh Durkheim. Selain sangat terpukul emosinya, Durkheim juga terlalu lelah bekerja, sehingga akhirnya ia terkena serangan lumpuh dan meninggal pada 1917.

7.            Mochtar Naim
Mochtar Naim adalah antropolog dan sosiolog Indonesia ternama yang dikenal sebagai pakar budaya Minangkabau. Ia merupakan pendiri dari Pusat Studi Minangkabau (Center for Minangkabau Studies). Selama tiga tahun berturut-turut sejak didirikannya pusat studi tersebut, Ia terus mengadakan berbagai macam kegiatan, penelitian, serta seminar mengenai kebudayaan masyarakat Minangkabau.
Pada awal 1971, Mochtar melakukan penelitian tentang pola migrasi suku Minangkabau dengan judul “Merantau: Minangkabau Voluntary Migration” (Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau” sebagai disertasinya semasa studinya di University of Singapore. Hasil penelitian itu diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press pada tahun 1979 dan dipakai secara luas dan seringkali menjadi rujukan di bidang sosiologi. 
Mochtar merupakan orang yang menemukan istilah “Minang-Kiau”, yang merujuk pada kebiasaan orang Minang yang gemar merantau dan berdagang. Menurutnya, sudah merupakan karakter dari masyarakat minangkabau ialah suka berpikir dan menelaah yang mana oleh karena itu banyak tokoh-tokoh berpengaruh yang dilahirkan dari masyarakat Minangkabau.
Mochtar meyakini bahwa kebudayaan masyarakat Minangkabau demikian unik karena sistem kekerabatannya yang matrilineal, sistem sosialnya yang egaliter dan demokratis, serta orientasi filosofinya yang sintetik dan universal cenderung berbeda dengan kebudayaan masyarakat Jawa. Meskipun beberapa kali mengajar di perguruan tinggi sebagai dosen luar biasa, Mochtar tidak pernah meminta untuk diangkat menjadi pegawai negeri, namun pernah diangkat sebagai pegawai negeri karena adanya desakan dari Rektor Mawardi Yunus dengan dispensasi dari Presiden dan pension pada tahun 1988.
Mochtar juga pernah menjabat sebagai anggota selama 10 tahun di Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia (MPR-RI) (1999-2004, 2004-2009) dan 5 tahun di Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) (2004-2009).

7 AHLI POLITIK

1.            Ramlan Surbakti
Politik adalah interaksi antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu. Ilmu Politik adalah interaksi antara pemerintah dan masyarakat, dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masayarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.”
Lahir di Tanjung MerawaKabupaten KaroSumatera Utara20 Juli 1953; umur 62 tahun) adalah seorang akademisi sekaligus praktisi Pemilihan Umum (Pemilu) yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada priode 2004-2007. Pada Pemilu 1999, Ramlan pernah pula menjadi anggota Panwaslu Pusat, selanjutnya, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Ramlan dipercaya menjadi anggota KPU.


2.            Karl W Deutsch
“Politik adalah pengambilan keputusan melalui sarana umum (Politics is the making of decisions by public means).”
(21 Juli 1912-1 November 1992) adalah seorang sosial dan ilmuwan politik dari Praha. Karyanya berfokus pada studi perang dan damai , nasionalisme , kerjasama dan komunikasi . Dia juga terkenal karena minatnya dalam memperkenalkan metode kuantitatif dan formal analisis sistem dan model pemikiran ke dalam bidang ilmu politik dan sosial, dan merupakan salah satu ilmuwan sosial yang paling terkenal dari abad ke-20.
Lahir dari keluarga berbahasa Jerman di Praha pada 21 Juli, 1912 ketika kota itu bagian dari Kekaisaran Austro-Hungaria , Deutsch menjadi warga negara Cekoslowakia setelah Perang Dunia I . Ibunya Maria Leopoldina Scharf Deutsch [1] adalah seorang Demokrat Sosial , dan wanita pertama yang terpilih menjadi anggota parlemen Cekoslowakia (1918) di mana ia menjadi terkenal karena penolakannya untuk Nazisme Ayahnya Martin Morritz Deutsch dimiliki toko optik di Praha Wenceslas Square , dan juga aktif di Partai Pekerja Sosial Demokrat Cekoslowakia ini . Pamannya Julius Deutsch adalah seorang pemimpin politik yang penting di Partai Sosial Demokrat Austria .
Karl belajar hukum di Universitas Jerman di Praha, di mana ia lulus pada tahun 1934. studi lebih lanjut Dia dihentikan sebagai sikap terbuka anti-Nazi yang disebabkan oposisi oleh mahasiswa pro-Nazi. Karl menikahi istrinya Ruth Slonitz pada tahun 1936, dan setelah menghabiskan dua tahun di Inggris, kembali ke Praha di mana karena mantan kegiatan Anti-Nazi, ia tidak bisa kembali ke Universitas Jerman. Dia malah bergabung rekan Republik, yang Universitas Charles , di mana ia memperoleh gelar sarjana hukum dalam hukum internasional dan kanon PhD di Ilmu Politik pada tahun 1938. Pada tahun yang sama, yang melihat Perjanjian Munich yang memungkinkan pasukan Jerman memasuki Sudetenland , ia dan istrinya tidak kembali dari perjalanan ke Amerika Serikat. Pada tahun 1939 Deutsch memperoleh beasiswa untuk melakukan penelitian lanjutan di Harvard University di mana ia menerima gelar PhD kedua di ilmu politik pada tahun 1951.
Selama Perang Dunia II ia bekerja untuk Office of Strategic Services , dan berpartisipasi sebagai mahasiswa pascasarjana di konferensi San Francisco yang mengakibatkan penciptaan PBB pada tahun 1945. Deutsch mengajar di beberapa universitas; pertama di MIT 1943-1956; kemudian di Yale University sampai tahun 1967; dan lagi di Harvard sampai tahun 1982. Ia menjabat sebagai Stanfield Profesor Perdamaian Internasional di Harvard, posisi yang dipegangnya sampai kematiannya.  
Deutsch bekerja secara luas pada cybernetics, tentang penerapan model simulasi dan sistem dinamika untuk mempelajari masalah-masalah sosial, politik, dan ekonomi, yang dikenal sebagai masalah yang jahat . Ia dibangun di atas upaya sebelumnya di dunia modeling seperti yang maju dan dianjurkan oleh penulis Club of Rome seperti Limits to Growth oleh Donella Meadows , et al. (1972). Dia memperkenalkan konsep-konsep baru seperti komunitas keamanan literatur.
Dia memegang beberapa posisi bergengsi lainnya; ia adalah anggota dewan Dunia Masyarakat Yayasan di Zürich , Swiss dari tahun 1984 dan seterusnya. Dia juga terpilih sebagai Presiden Asosiasi Ilmu Politik Amerika pada tahun 1969, dari Asosiasi Ilmu Politik Internasional pada tahun 1976, dan dari Masyarakat untuk Sistem Umum Penelitian pada tahun 1983. Dari 1977-1987, ia adalah Direktur Ilmu Sosial Research Center Berlin ( Wissenschaftszentrum Berlin für Sozialforschung, WZB ) di Berlin .
Dia meninggal di Cambridge, Massachusetts pada tanggal 1 November 1992. Dia memiliki dua anak perempuan, Mary D. Edsall, seorang penulis (istri Thomas Edsall ), dan Margaret D. Carroll, seorang sejarawan seni, dan tiga cucu, Alexandra Edsall, Sophia Carroll , dan Samuel Carroll.

3.          DeliarNoer


“Politik adalah segala aktivitas atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan yang bermaksud untuk mempengaruhi, dengan jalan mengubah atau mempertahankan, suatu macam bentuk susunan masyarakat.”
Lahir di MedanSumatera Utara9 Februari 1926 – meninggal di Jakarta18 Juni 2008 pada umur 82 tahun), adalah seorang dosen, pemikir, peneliti, dan politikus asal Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai rektor IKIP Jakarta, pendiri dan ketua umum Partai Umat Islam. Deliar merupakan sedikit dari intelektual dan ilmuwan politik yang memiliki integritas tinggi dan aktif menulis. Ia juga merupakan salah seorang perintis dasar-dasar pengembangan ilmu politik di Indonesia.
Pemikiran Deliar Noer, tentang Politik Indonesia mengalami pasang naik dan pasang surut dalam kehidupan bernegara di tanah air, bahkan sebelum Indonesia berbentuk negara di abad ke-20 yaitu ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Di masa penjajahan, telah disebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia, jadi melepaskan diri dari ikatan Belanda dan merupakan tujuan utama. Dalam perjalanan pergerakan untuk menjadi sebuah bangsa yang berdaulat Deliar Noer membagi kedalam tiga kelompok  yakni; pertama, Ahli atau peserta pergerakan terlibat langsung dalam berpolitik, karena begitu hebatnya mereka menggerakan rakyat untuk tidak buta politik, tidak takut politik dan tidak berdiam diri dengan keadaan politik yang dihadapi. kedua, orang yang memang tidak ingin atau enggan untuk turut serta dalam perjuangan kemerdekaan itu, menurutnya pihak ini adalah mereka yang takut akan politik, disadari atau tidak, telah serta juga dalam kehidupan politik. Karena mereka telah memilih suatu alternative dalam kehidupan berpolitik walaupun secar pasif. Ketiga, kelompok yang anti terhadap kemerdekaan yakni orang-orang yang aktif menentang usaha pergerakan dan membantu usaha-usaha hindia belanda untuk mematikan dan, sekurang-kurangnya, menghambat jalan pergerakan tersebut, menurutnya mereka telah dipandang sebagai orang-orang yang berpolitik walaupun dalam perjuangan kemerdekaan dipandang merugikan pergerakan kemerdekaan.
4.            Prof Miriam Budiardjo
“Politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu system politik atau Negara yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan system itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu.”
Lahir di KediriJawa Timur20 November 1923 – meninggal di Jakarta8 Januari 2007 pada umur 83 tahun) adalah pakar ilmu politik Indonesia dan mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Istri Ali Budiardjo, seorang tokoh perjuangan Indonesia, ini pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) periode 1974–1979. Ia masih bersaudara dengan             Soedjatmoko.

5.                Ossip Kurt Flechtheim
“Ilmu politik adalah ilmu sosial yang khusus mempelajari sifat dan tujuan dari negara sejauh negara merupakan organisasi kekuasaan, beserta sifat dan tujuan dari gejala-gejala kekuasaan lain yang tidak resmi yang dapat mempengaruhi negara.”
Lahir 5 Maret 1909 di Nikolaev , Kekaisaran Rusia ; † 4. Maret tahun 1998 di Berlin  adalah seorang Jerman profesor universitas dan penulis . The pengacara dan ilmuwan politik adalah salah satu pendiri dari futurologi di Jerman. Flechtheim adalah anak dari penjual buku Hermann Flechtheim (1880-1960) [1] dan istrinya Olga, lahir Farber (1884-1964). [2] Keluarganya pindah pada tahun 1910 kembali ke Westphalia Münster , rumah Bapa, di mana kerabat di sereal grosir aktif yang (→ Flechtheimspeicher ), dan kemudian untuk Dusseldorf . Kedua orang tua adalah anggota komunitas Yahudi . Ossip Flechtheim itu tetap tidak religius tertarik. Sebagai non-denominasi humanis dia setelah Perang Dunia Kedua di Berlin Barat Anggota dari Jerman free thinker federasi eV (kemudian Asosiasi Humanis Jerman ).

      Setelah lulus dari Hindenburg Sekolah (sekarang Humboldt-Gymnasium Dusseldorf ), yang selesai pada tahun 1927, ia pindah ke KPD . Karena sempitnya ideologi partai ia bergabung pada tahun 1931 setelah lima tahun dan Moskow -Travel dari lagi. Flechtheim belajar hukum dan ilmu politik di Universitas Freiburg , Paris , Heidelberg , Berlin dan akhirnya Cologne . Dari tahun 1931 sampai 1933 ia menyelesaikan tulis-hukumnya di Pengadilan Daerah yang lebih tinggi Dusseldorf . Dia masih pada tahun 1934 di Cologne dengan Carl Schmitt dengan karya Hegel teori pidana Dr. jur. doktor. Edisi cetak yang diperlukan tidak bisa melakukan di luar negeri (Rohrer-Verlag, Brno 1936) muncul.

6.            David Easton
“Ilmu politik adalah studi mengenai terbentuknya kebijakan umum (study   of the making of public policy).”
Lahir 24 Juni 1917 - 19 Juli 2014 adalah seorang Kanada -born Amerika ilmuwan politik . Easton, yang lahir di Toronto , Ontario, datang ke Amerika Serikat pada tahun 1943. Dari 1947-1997, ia menjabat sebagai profesor ilmu politik di University of Chicago.
Di garis depan dari kedua behavioralist dan pasca-behavioralist revolusi dalam disiplin ilmu politik selama tahun 1950 dan 1970-an, Easton disediakan definisi disiplin yang paling banyak digunakan dari politik sebagai alokasi otoritatif nilai-nilai bagi masyarakat. Dia terkenal untuk aplikasi tentang teori sistem untuk mempelajari ilmu politik. analis kebijakan telah digunakan skema lima kali lipat nya untuk mempelajari pembuatan kebijakan proses: input, konversi, output, umpan balik dan lingkungan. Gunnell berpendapat bahwa sejak tahun 1950-an konsep "sistem" adalah konsep teoritis yang paling penting yang digunakan oleh para ilmuwan politik Amerika. Idenya muncul dalam sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya tapi itu Easton yang ditentukan bagaimana hal itu bisa terbaik diterapkan untuk penelitian perilaku politik. [1]
Selama karirnya, ia telah menjabat sebagai gatekeeper kunci, sebagai konsultan untuk banyak organisasi terkemuka dan lembaga pendanaan, dan penulis berbagai publikasi ilmiah berpengaruh. Ia telah bertugas di berbagai dewan dan komite dan presiden dari Asosiasi Ilmu Politik Amerika .
7.            Roger Frederick Wicker
“Ilmu Politik mempelajari negara, tujuan-tujuan negara dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan-tujuan itu, hubungan antara negara dengan warganya serta hubungan antarnegara”
Lahir 5 Juli 1951) adalah seorang politisi Amerika dan anggota Partai Republik yang menjabat sebagai junior Senator Amerika Serikat dari Mississippi , di kantor sejak tahun 2007.
Setelah lulus dari University of Mississippi , Wicker bertugas di Angkatan Udara Amerika Serikat 1976-1980 dan bekerja sebagai penasihat politik untuk kemudian Kongres Trent Lott . Dia kemudian bertugas di Senat Negara Bagian Mississippi 1988-1994, ketika ia terpilih menjadi anggota DPR AS dari distrik kongres 1 Mississippi , berhasil lama pensiun Demokrat Jamie L. Whitten , untuk siapa Wicker dulunya Halaman.
Anyaman bertugas di Gedung dari Januari 1995 sampai Desember 2007, ketika ia diangkat oleh Gubernur Haley Barbour untuk mengisi kursi yang ditinggalkan oleh Trent Lott. Ia kemudian memenangkan pemilihan khusus 2008 untuk sisa istilah dan terpilih kembali untuk masa jabatan penuh pada tahun 2012 . Dia saat ini menjabat sebagai Ketua Komite senator Partai Republik Nasional untuk Kongres AS 114. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar